Kondisi dan Asas untuk Belajar yang
Berhasil
Pengajaran yang efektif dan bisa dikatakan berhasil ditandai oleh
berlangsungnya proses belajar. Seseorang dikatakan mengalami proses belajar
apabila orang tersebut mengalami perubahan dari sebelumnya tidak tahu menjadi
tahu dan dapat dilakukannya. Sebagai calon guru kita harus mengetahui,
menyadari, dan memanfaatkan kondisi dan asas untuk menuju keberhasilan proses
belajar yang telah terbukti mendukung proses belajar tersebut dengan baik.
Berikut ini penjabaran mengenai pembahasan cara penerapan setiap kondisi dan
asas dalam perencanaan pengajaran
1.
Persiapan Sebelum Mengajar
Siswa harus lulus dengan memuaskan dalam
pelajaran prasyarat sebelum memulai suatu program atau satuan pelajaran
tertentu. Kalau hasil belajar sebelumnya tidak dikuasai, pelajaran selanjutnya
menjadi kurang berarti dan dipelajari dengan menghapal saja tanpa terjadinya
tingkah laku apa pun. Contohnya: seseorang siswa lulusan SMA jurusan IPS yang
ingin melanjutkan pendidikannya di Kedokteran akan lebih sulit menangkap
pembelajaran yang terjadi di perguruan tinggi, dibanding dengan lulusan SMA
yang berasal dari jurusan IPA. Ini dikarenakan dalam menempuh pendidikan
kedokteran hampir semua mata kuliah yang dipelajari merupakan lanjutan dari
pelajaran SMA di jurusan IPA.
2.
Sasaran Belajar
Pengaruh sasaran atau tujuan dalam
proses pembelajaran yang dinyatakan dengan jelas memiliki pengaruh yang besar
untuk keberhasilan proses belajar. Pada awal pembelajran sebelum diberikan
materi, siswa diberi tahu tentang sasaran khusus yang akan dicapai dari proses
pembelajaran tersebut.
3.
Susunan Bahan Ajar
Proses belajar dapat ditingkatkan apabila
bahan ajar atau tata cara yang akan dipelajari tersusun dalam urutan yang
bermakna dan sistematis. Kemudian bahan tersebut harus disajikan pada siswa
dalam beberapa bagian, banyak sedikitnya bagian tergantung urutan, kerumitan,
dan kesulitannya. Susunan dan tata cara ini dapat membantu siswa dalam
menggabungkan dan memadukan pengetahuan atau proses secara pribadi.
4.
Perbedaan Individu
Karakteristik siswa didalam suatu ruang
lingkup yang sama atau kelas yang sama memiliki cara dan kecepatan yang
berbeda-beda. Belajar kelompok memang menguntungkan untuk tujuan tertentu dan
lebih disukai oleh beberapa siswa. Akan tetapi, bukti menunjukkan bahwa
sebagian siswa dapat mencapai sasaran yang dipersyaratkan dengan cara yang
paling memuaskan apabila mereka dengan menggunakan bahan yang tepat.
5.
Motivasi
Keinginan untuk seseorang belajar
memepersyaratkan bahwa adanya motivasi. Keinginan seperti ini akan timbul
apabila:
1.
pengajaran dipersiapkan dengan baik sehingga dirasakan penting dan menarik
untuk siswa
2.
tersedia berbagai pengalaman belajar
3. siswa
mengetahui bahwa bahan yang akan dipelajari akan digunakan sesegera mungkin,
dan
4.
pengakuan tentang keberhasilan belajar diberikan untuk mendorong upaya belajar
selanjutnya.
6. Sumber Pengajaran
Jika bahan pengajaran termasuk media
seperti gambar dan rekaman video, dipilih dnegan hati-hati dan dipadukan secara
bersistem untuk menunjang berbagai kegiatan dalam program pengajaran, akan
terlihat dampak yang berarti dalam prestasi siswa. Sumber seperti itu akan
meluweskan pengajaran dan meningkatkan kesempatan untuk menyesuaikan pengajaran
dengan kebutuhan perseorangan. Dengan demikian, produktivitas baik pada siswa
maupun guru akan meningkat
7. Keikutsertaan
Agar proses pembelajaran berlangsung,
siswa harus menghayati informasi dan tidak hanya disuapi saja. Mengikuti
kegiatan secara aktif lebih disukai daripada mendengar dan menonton secara
pasif berjam-jam. Keikutsertaan berarti siswa ikut memberikan respons dalam pikiran
mereka atay menunjukkannya melalui kegiatan jasmani, yang disisipkan secara
strategis selama berlangsungnya penyajian pengajaran atau peragaan
8. Balikan
Motivasi untuk belajar dapat
dilanjutkan atau ditingkatkan apabila siswa diberi tahu secara berkala tentang
kemajuan mereka. Balikan memperkuat pemahaman dan kinerja yang benar,
memberitahukan kesalahan, dan memperbaiki proses belajar yang salah. Untuk
memperoleh hassil belajar yang memuaskan terdapat hubungan yang erat antara
balikan dan penguatan.
9. Penguatan
Dengan memperoleh penegasan (balika)
tentang jawaban yang dipandang berhasil, siswa terdorong untuk meneruskan
kegiatan belajarnya. Kegiatan belajar yang didorong oleh keberhasilan
menimbulkan kepuasan dan percaya diri. Tanggapan yang mendapat tanggapan
positif cenderung akan timbul berulang-ulang pada siswa menghadapi suasana yang
mirip atau sama.
10. Latihan dan
Pengulangan
Agar suatu fakta atau keterampilan
menjadi bagian yang kuat dari dasar pengetahuan siswa maka dibutuhkan lebih
dari satu pengajaran. Sambil meneruskan asas keikutsertaan, balikan dan
penguatan seperti diterangkan terdahulu, maka penyelesaian latihan tertulis,
latihan berulang-ulang dalam suasana nyata, atau lebih beruntun untuk maksud
menghafal, akan dapat mencapai tahap kelebihan belajar. Hasilnya adalah
kemampuan mengingat dalam jangka panjang. Latihan menjadi sangat efektif
apabila dilakukan dalam jangka waktu tertentu.
11. Urutan Kegiatan
Belajar
Tugas atau tata cara yang rumit dapat
dipelajari dengan lebih efektif apabila peragaan dan latihan diberikan secara
terpadu. Pelatihan dimaksudkan untuk melatihkan bagian-bagian dari tugas atau
tata cara tersebut. Cara yang memuaskan untuk memadukan peragaan dengan
pelatihan, antara lain:
1.
memperagakan seluruh tata cara langsung atau dari film atau video
2.
memperagakan kembali bagian pertama
3. member
kesempatan kepada siswa untuk melatih bagian pertama tata cara tersebut
4.
memperagakn bagian kedua
5.
memperagakan bagian ketiga
6. member
kesempatan untuk melatih bagian pertama, kedua, dan ketiga, dan seterusnya.
Disarankan untuk memberikan ujian
kemampuan akhir mengenai keseluruhan tugas yang diselesaikan.
12. Penerapan
Hasil penting dari kegiatan belajar
adalah meningkatnya kemampuan siswa untuk menerapkan atau memindahkan apa yang
telah dipelajarinya kepada masalah atau situasi baru. Apabila siswa tidak dapat
melakukan hal ini berarti pemahaman yang mendalam belum diperoleh siswa
tersebut. Pertama, siswa harus telah terbantu menemukan rampatan (konsep,
kaidah, asas) yang berhubungan dengan pokok bahasan atau tugas. Kedua,
kesempatan harus diberikan kepada siswa untuk bernalar dengan menerapkan
rampatan keberbagai jenis tugas atau masalah nyata dan baru. Agar dapat
menggunakan asas ini, harus ditulis, dicari, atau diciptakan masalah dan
situasi nyata yang belum dikenal siswa atau berbeda dalam beberapa hal dengan
digunakan selama pengajaran dan pelatihan. Kemudian, setiap menghadapi situasi
baru, siswa harus mengenali unsure yang mirip dengan yang ditemukan dalam
rampatan tersebut dan mengambil tindakan yang sesuai.
13. Sikap Mengajar
Sikap positif dioerlihatkan pengajar
dan asisten terhadap mata ajar yang disajikan pada siswa dan terhadap metode
pengajaran yang digunakan, dapat mempengaruhi motivasi dan sikap siswa terhadap
suatu program pengajaran. Sudah merupakan keharusan bahwa setiap orang yang
terlibat dalam penerapan dan pelaksanaan suatu program pengajaran memperlihatkankegairahan,
kerja sama, kesediaan menolong dan minat terhadap bahan ajar. Apabila siswa
merasakan atau benar-benar melihat ungkapan atau sikap positif seperti itu,
siswa akan cenderung bertingkah laku positif. Hasilnya dapat sangat mendukung
keberhasilan program pengajaran tersebut.
14. Penyajian di
Depan Kelas
Dalam menggunakan penyajian kelompok,
pengajar memberitahukan, menunjukkan, memperagakan, menguraikan dengan sara
mengesankan, atau menyebar bahan ajar kepada sekelompok siswa. Pola ini dapat
digunakan di kelas atau di berbagai tempat dengan menggunakan radio, telepon
yang dilengkapi pengeras suara dan lain-lain. Guru dapat berbicara di depan
kelas, atau dapat pula menggunakan bahan media rekaman, slide, film, atau
rekaman video, masing-masing terpisah atau dalam kondisi nekasantir. Penyajian
dapat pula berlangsung tanpa guru, misalnya slide yang diikuti rekaman dalam
kaset atau format dalam format video. Semua kegiatan ini menggambarkan alih
informasi satu arah dari guru kepada siswa, sering untuk jangka waktu tertentu
(biasanya satu jam pelajaran berlangsung 40-50 menit). Pada kelas kecil terjadi
komunikasi dua arah antara guru dengan siswa, namun sering sekali siswa
mendegarkan dengan pasif dan menonton saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar