Contextual
teaching learning merupakan
sebuah model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas belajar siswa secara
penuh, baik secara fisik maupun mental. CTL memandang bahwa belajar bukan
proses menghapal, tetapi melalui pengalaman pembelajaran yang dilalui peserta
didik, mereka dapat memahami hakikat dan makna materi pembelajaran yang
dialaminya secara langsung. Kelas dalam CTL bukan sebagai tempat memperoleh
informasi, akan tetapi merupakan tempat untuk melakukan proses menguji suatu
data dan memperoleh informasi dari materi pembelajaran yang dialami peserta
didik. Materi pembelajaran ditemukan sendiri oleh peserta didik, bukan
merupakan hasil pemberian orang lain/guru.
PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING
Adapun
prinsip-prinsip pengembangan contextual teaching learning tersebut, antara lain;
1. Prinsip
kesaling-tergantungan
Prinsip kesaling-tergantungan mengajak
para guru untuk mengenali keterkaitan mereka dengan guru lainnya, dengan para
peserta didiknya, dengan masyarakat, dan dengan alam semesta. Sekolah adalah
sebuah sistem kehidupan. Di dalam sebuah lingkungan belajar di mana setiap
anggota satuan pendidikan menyadari keterhubungan mereka, sistem CTL dapat
berkembang. Prinsip ini ada di segala bidang sehingga memungkinkan para peserta
didik untuk membuat hubungan yang bermakna.
2. Prinsip differensiasi
Prinsip differensiasi menyumbangkan
kreatifitas indah yang berdetak di seluruh alam semesta. Prinsip ini mendorong
alam semesta menuju keragaman yang tak terbatas, dan hal
itu menjelaskan kecenderungan-kecenderungan yang berbeda untuk bekerjasama
dalam bentuk yang disebut dengan simbiosis Jika para
guru percaya terhadap ilmuwan modern bahwa prinsip differensiasi yang dinamis
ini meliputi dan mempengaruhi bumi dan semua sistem kehidupan, maka mereka
pasti ingin mengajarkan sesuai dengan prinsip itu.
3. Prinsip pengaturan
diri-sendiri
Karena prinsip pengaturan diri-sendiri,
segala sesuatunya diatur oleh diri sendiri, dipertahankan oleh diri sendiri,
dan disadari oleh diri sendiri. Untuk menciptakan diri para peserta didik
sendiri, untuk mengeluarkan potensi terpendam mereka menjadi nyata, untuk
melawan daya tarik dari status quo, peserta didik harus menguji konteks mereka sendiri.
Prinsip ini meminta para guru untuk
mendorong setiap peserta didiknya mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya.
Guna menyesuaikan dengan prinsip ini, sasaran utama CTL adalah menolong peserta
didik mencapai keunggulan akademik, memperoleh ketrampilan karier, dan
mengembangkan karakter dengan cara menghubungkan materi
pembelajaran di satuan pendidikan atau tugas-tugas di sekolah dengan pengalaman
serta pengetahuan pribadinya.
CTL mencerminkan kesaling-tergantungan
mewujudkan diri, misalnya ketika para peserta didik bergabung untuk memecahkan
suatu masalah dan guru mengadakan pertemuan dengan rekannya. Hal ini tampak
jelas ketika subjek yang berbeda dihubungkan, dan ketika kemitraan
menggabungkan satuan pendidikan dengan stake holders. CTL
mencerminkan prinsip differensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para
peserta didik untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk
menghormati perbedaan, untuk menjadi kreatif, bekerjasama, dan menghasilkan
gagasan dan ide/hasil baru yang berbeda dan inovatif, dan menyadari bahwa
keragaman merupakan tanda kemantapan dan kekuatan.
Kelebihan dan Kelemahan
Contextual Teaching and Learning
Kelebihan
1.
Pembelajaran menjadi
lebih bermakna dan real. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat
penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam
memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
2.
Pembelajaran lebih
produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode
pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun
untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
Kelemahan
1.
Guru lebih intensif
dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat
informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa
dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang
akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang
dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”
penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar
mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
2.
Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan
mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan
strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini
tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa
agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar