Selasa, 05 Juni 2012

Contextual Teaching and Learning dan prinsip-prinsip CTL

        Contextual teaching learning merupakan sebuah model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas belajar siswa secara penuh, baik secara fisik maupun mental. CTL memandang bahwa belajar bukan proses menghapal, tetapi melalui pengalaman pembelajaran yang dilalui peserta didik, mereka dapat memahami hakikat dan makna materi pembelajaran yang dialaminya secara langsung. Kelas dalam CTL bukan sebagai tempat memperoleh informasi, akan tetapi merupakan tempat untuk melakukan proses menguji suatu data dan memperoleh informasi dari materi pembelajaran yang dialami peserta didik. Materi pembelajaran ditemukan sendiri oleh peserta didik, bukan merupakan hasil pemberian orang lain/guru.

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING
Adapun prinsip-prinsip pengembangan contextual teaching learning tersebut, antara lain;
1. Prinsip kesaling-tergantungan
        Prinsip kesaling-tergantungan mengajak para guru untuk mengenali keterkaitan mereka dengan guru lainnya, dengan para peserta didiknya, dengan masyarakat, dan dengan alam semesta. Sekolah adalah sebuah sistem kehidupan. Di dalam sebuah lingkungan belajar di mana setiap anggota satuan pendidikan menyadari keterhubungan mereka, sistem CTL dapat berkembang. Prinsip ini ada di segala bidang sehingga memungkinkan para peserta didik untuk membuat hubungan yang bermakna.



2. Prinsip differensiasi
        Prinsip differensiasi menyumbangkan kreatifitas indah yang berdetak di seluruh alam semesta. Prinsip ini mendorong alam semesta menuju keragaman yang tak terbatas, dan hal itu menjelaskan kecenderungan-kecenderungan yang berbeda untuk bekerjasama dalam bentuk yang disebut dengan simbiosis Jika para guru percaya terhadap ilmuwan modern bahwa prinsip differensiasi yang dinamis ini meliputi dan mempengaruhi bumi dan semua sistem kehidupan, maka mereka pasti ingin mengajarkan sesuai dengan prinsip itu.

3. Prinsip pengaturan diri-sendiri
        Karena prinsip pengaturan diri-sendiri, segala sesuatunya diatur oleh diri sendiri, dipertahankan oleh diri sendiri, dan disadari oleh diri sendiri. Untuk menciptakan diri para peserta didik sendiri, untuk mengeluarkan potensi terpendam mereka menjadi nyata, untuk melawan daya tarik dari status quo, peserta didik harus menguji konteks mereka sendiri.
        Prinsip ini meminta para guru untuk mendorong setiap peserta didiknya mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya. Guna menyesuaikan dengan prinsip ini, sasaran utama CTL adalah menolong peserta didik mencapai keunggulan akademik, memperoleh ketrampilan karier, dan mengembangkan karakter dengan cara menghubungkan materi pembelajaran di satuan pendidikan atau tugas-tugas di sekolah dengan pengalaman serta pengetahuan pribadinya.
        CTL mencerminkan kesaling-tergantungan mewujudkan diri, misalnya ketika para peserta didik bergabung untuk memecahkan suatu masalah dan guru mengadakan pertemuan dengan rekannya. Hal ini tampak jelas ketika subjek yang berbeda dihubungkan, dan ketika kemitraan menggabungkan satuan pendidikan dengan stake holders. CTL mencerminkan prinsip differensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para peserta didik untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk menghormati perbedaan, untuk menjadi kreatif, bekerjasama, dan menghasilkan gagasan dan ide/hasil baru yang berbeda dan inovatif, dan menyadari bahwa keragaman merupakan tanda kemantapan dan kekuatan.
Kelebihan dan Kelemahan Contextual Teaching and Learning
Kelebihan
1.     Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan real. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
2.    Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
Kelemahan
1.     Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
2.    Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar